Apa yang Dimaksud dengan Drama serta Bagaimana Ciri dan Unsurnya

Apa yang Dimaksud dengan Drama serta Bagaimana Ciri dan Unsurnya

Apa yang dimaksud dengan drama dan bagaimana ciri umum serta unsur intrinsik drama? Simak penjelasannya berikut ini.

Jasa Translate Dokumen

Apa yang Dimaksud dengan Drama?

Secara etimologis, kata drama berasal dari bahasa Yunani ‘dran’ yang bermakna ‘berbuat, to do atau to act’ (Baranger, 2994, 4). Dari makna tersebut, kita tahu bahwa drama mengutamakan perbuatan atau gerakan.

Awal mulanya, kata drama timbul dari suatu upacara atau ritual pemujaan terhadap para dewa Yunani. Seiring berjalannya waktu, drama terus mengalami perkembangan. Awalnya, drama hanya dilakukan di lapangan terbuka denganpenonton yang duduk melingkar dan upacara dilakukan di tengah lingkaran. Lama-kelamaan jumlah lingkaran penonton semakin luas sehingga dibutuhkan tempat upacara yang lebih luas. Maka tempat upacara tersebut berpindah ke tempat semacam auditorium luas yang disebut theatron oleh bangsa Yunani. Kata ‘theatron’ diartikan sebagai ‘a place of seeing’, yaitu tempat tontonan yang berbentuk bangku-bangku disusun berputar setengah lingkaran dan mendaki ke arah lereng bukit sebagai tempat duduk penonton (Baranger, 1994; Yudiaryani, 2002, 1). Kata ‘theatron’ ini kemudian diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi ‘theater’.

Jasa Subtitle Youtube dan Film

Dalam perkembangannya, pergeseran makna dari drama mulai terjadi. Awalnya, drama merupakan sebuah seni upacara keagamaan, lambat laun menjadi seni berbicara yang enak ditonton yang mengandalkan dialog atau percakapan sebagai elemen utamanya.

Lantas apa yang dimaksud dengan drama di masa sekarang? Sederhananya, yang dimaksud dengan drama di masa sekarang adalah sebuah seni pertunjukkan yang menampilkan erakan dan dialog berdasarkan naskah.

Pengertian Drama Menurut Para Ahli

Supaya lebih paham mengenai apa yang dimaksud dengan drama, berikut akan dijelaskan pengertian drama menurut para ahli.

Pengertian Drama Menurut Hasanuddin

Hasanuddin (2009, 4) mengemukakan bahwa drama adalah karya yang mempunyai dua dimensi karakteristik, yaitu dimensi sastra dan dimensi seni pertunjukkan. Maksudnya, drama dapat diartikan sebagai suatu karya sastra berupa teks drama. Selain itu, drama juga bisa diartikan sebagai seni pertunjukan atau pentas yang diperankan oleh aktor.

Pengertian Drama Menurut Esser

Esser (2007, 122) mengemukakan bahwa drama merupakan handlung atau lakon yang lebih mengarah pada bagian dari pentas (theater). Seorang penyair yang menulis sebuah cerita drama disebut sebagai dramatiker atau dramawan.

Pengertian Drama Menurut Suyoto

Menurut Suyoto (2006, 1) yang dimaksud dengan drama adalah kisah kehidupan manusia yang dikemukakan di pentas berdasarkan naskah, menggunakan percakapan, gerak laku, unsur-unsur pembantu seperti tata panggung, serta disaksikan oleh penonton.

Pengertian Drama Menurut Waluyo

Waluyo (2006, 1) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan drama adalah sebuah kisah tiruan kehidupan manusia yang diproyeksikan di atas pentas.

Pengertian Drama Menurut Budianto

Menurut Budianto, dkk. (2002, 95) drama diartikan sebagai sebuah genre sastra yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya percakapan atau dialog antartokoh yang ada.

Pengertian Drama Menurut Brunetiere dan Verhagen

Sementara Brunetiere dan Verhagen mengemukakan bahwa drama adalah kesenian yang melukiskan sifat atau sikap manusia dan harus melahirkan kehendak manusia dengan aksi dan pelaku.

Jadi Apa yang Dimaksud dengan Drama?

Berdasarkan penjelasan di atas, yang dimaksud dengan drama adalah sebuah karya sastra yang ditulis dalam bentuk dialog dan memiliki maksud untuk ditampilkan dalam sebuah pertujukkan yang diperankan oleh aktor. Dalam pertunjukkan drama, unsur yang paling penting adalah dialog atau percakapan yang terjadi di atas panggung. Hal ini karena dialog merupakan faktor penentu dari isi cerita drama yang dipertunjukkan.

Bagaimana Ciri-Ciri Umum Drama?

Jasa Parafrasa

Dari penjelasan mengenai pengertian drama di atas, kita tahu bahwa drama memiliki ciri yang membedakannya dengan karya sastra yang lainnya. Adapun ciri-ciri drama adalah sebagai berikut:

1. Berupa cerita

Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan drama adalah sebuah karya sastra yang berupa cerita atau kisah kehidupan manusia yang diproyeksikan di atas pentas. Dari pengertian tersebut kita tahu bahwa salah satu ciri drama adalah berisi sebuah cerita atau kisah kehidupan manusia. Cerita tersebut bisa diambil dari sebuah kisah nyata ataupun karangan dari penulisnya.

2. Berbentuk dialog

Kisah dalam cerita drama disampaikan melalui dialog dan narasi, tetapi yang mendominasi adalah dialog. Hal tersebut ditegaskan oleh Hasanuddin (dalam Dewojati, 2010, 9), salah satu ciri yang membedakan drama dengan karya sastra adalah penyampaiannya melalui dialog atau aksi yang dilakukan oleh para tokoh.

Menurut Dewojati (2010, 176) fungsi dialog dalam drama secara universal adalah sebagai wadah bagi pengarang untuk menyampaikan informasi, fakta, atau ide-ide utama. Jadi dengan kata lain, dialog dalam drama merupakan wadah bagi penonton untuk menangkap informasi, fakta, atau ide yang ingin disampaikan oleh penulis.

3. Bertujuan untuk dipentaskan

Ciri lainnya yang membedakan drama dengan karya sastra lainnya adalah pementasan. Tujuan utama dari penulisan sebuah drama adalahuntuk dipentaskan. Pertunjukkan drama dilakukan di atas panggung dan diperankan oleh para aktor menggunakan percakapan dan gerak laku berdasarkan naskah serta disaksikan oleh penonton.

Baca juga: Apa yang Dimaksud dengan Teks Eksposisi?

Apa Tujuan Drama?

Tujuan dari drama ada beberapa macam. Berikut adalah beberapa tujuan drama:

  • Sebagai sarana hiburan untuk semua kalangan masyarakat;
  • Memperoleh pengetahuan mengenai seni teater;
  • Sebagai media untuk mengembangkan bakat mengenai estetika.

Apa saja Manfaat Drama?

Selain sebagai sarana hiburan bagi masyarakat, ternyata drama juga mempunyai beberapa manfaat lain. Adapun manfaat drama adalah:

  • Bagi pemainnya, drama bermanfaat untuk meningkatkan rasa percaya diri serta meningkatkan nilai sosial seseorang;
  • Manfaat lainnya untuk berlatih mengontrol emosi menjadi lebih baik;
  • Bagi penulisnya, drama bermanfaat untuk memberikan kesempatan dalam berkreasi;
  • Bagi penontonnya, drama bermanfaat untuk dapat lebih menghargai pendapat orang lain dengan baik;
  • Dalam dunia pendidikan, drama digunakan sebagai sarana edukasi yang baik dan menyenangkan.

Baca juga: Apa yang Dimaksud dengan Teks Eksplanasi?

Apa Saja Unsur-Unsur Drama?

Unsur-unsur drama dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu unsur instinsik dan unsur ekstrinsik.

Unsur Intrinsik Drama

Yang dimaksud dengan unsur intrinsik drama adalah segala macam unsur yang secara langsung terdapat dalam teks drama. Adapun unsur-unsur intrinsik drama adalah sebagai berikut.

1. Penokohan/Perwatakan

Perwatakan merupakan penggambaran sifat batin seorang tokoh yang disajikan dalam sebuah cerita. Dalam drama, watak tokoh digambarkan secara tiga dimensi melalui keadaan fisik, psikis, dan sosiologis. Perwatakan tokoh dalam drama dapat digambarkan secara langsung melalui penjelasan dalam teks cerita. Selain itu, perwatakan juga bisa digambarkan secara tidak langsung melalui dialog antartokoh, ekspresi, tanggapan tokoh lain, dan tingkah laku tokoh.

2. Latar

Menurut Budiyati (2009, 31) latar merupakan keterangan mengenai waktu, ruang, dan suasana terjadinya suatu peristiwa yang ada dalam cerita drama. Dari pengertian tersebut, kita tahu bahwa latar terbagi menjadi tiga jenis, yaitu latar tempat, waktu, dan suasana.

3. Dialog (Percakapan)

Ciri khas drama adalah terdapat dialog atau percakapan, baik dialog yang berupa monolog maupun percakapan antartokoh. Dialog harus dapat mewakili watak dari tokoh yang dibawakan.

4. Alur

Menurut Sarumpaet (dalam Budiyati, 2009, 28) alur merupakan rangkaian peristiwa yang terjalin berdasarkan hukum sebab akibat. Alur berperan penting dalam menggerakan jalannya peristiwa mulai dari awal pengenalan,pertikaian, dan penyelesaian.

5. Tema

Menurut Budiyati (2009, 25) tema merupakan gagasan, ide, atau pokok pikiran yang ada di dalam karya sastra, baik terungkap secara tersurat maupun tersirat. Biasanya, tema yang diangkat dalam drama meliputi masalah percintaan, kesenjangan sosial, kritik sosial, kemiskinan, penindasan, dan renungan hidup.

6. Amanat

Amanat merupakan pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca atau penonton melalui lakon dramanya. Umumnya, amanat disampaikan secara implisit melalui bagaimana cara tokoh menyikapi masalah yang dihadapi.

Unsur Ekstrinsik Drama

Unsur ekstrinsik drama adalah segala macam unsur yang berada di luar teks drama, tetapi ikut memengaruhi cerita yang disajikan. Artinya, unsur ekstrinsik tidak terlibat langsung terhadap jalannya cerita, tetapi keberadaan unsur ini berpengaruh pada perkembangan cerita tersebut. Yang termasuk dalam unsur ekstrinsik drama antara lain:

  • biografi pengarang;
  • falsafah hidup pengarang;
  • faktor sosial budaya masyarakatnya yang dianggap dapat memberikan masukan yang menunjang penciptaan karya drama tersebut;
  • faktor psikologis pemain dan kru;
  • kebijakan pemerintah, dan lain sebagainya.

Baca juga: Apa yang Dimaksud dengan Teks Deskripsi?

Contoh Naskah Drama Singkat

Apa yang dimaksud dengan drama

Berikut contoh naskah drama singkat yang diadaptasi dari cerpen berjudul Kena Batunya karya Veronica Widyastuti


Babak I

Pagi-pagi, suasana di kelas IX SMP Sambo Indah cukup ramai. Bermacam-macam tingkah kegiatan mereka. Ada yang mengobrol, ada yang membaca buku. Ada pula yang keluar masuk kelas.

Cahyo: “Ssst….Bu Indati datang!” (Para siswa segera beranjak duduk di tempatnya masing-masing)

Bu Indati: “Selamat pagi, Anak-anak!” (ramah)

Anak-anak: “Selamat pagi, Buuuuuu!” (kompak).

Bu Indati: “Anak-anak, kemarin Ibu memberikan tugas Bahasa Indonesia membuat pantun, semua sudah mengerjakan?”

Anak-anak: “Sudah Bu.”

Bu Indati: “Arga, kamu sudah membuat pantun?”

Agra: “Sudah dong, Bu.”

Bu Indati: “Coba kamu bacakan untuk teman-temanmu.”

Agra: (tersenyum nakal lalu berpantun) “Jalan ke hutan melihat salak, Ada pula pohon-pohon tua Ayam jantan terbahak-bahak Lihat Inka giginya dua”

Anak-anak: (Tertawa terbahak-bahak)

Inka: (Cemberut, melotot pada Agra)

Bu Indati: “Arga, kamu nggak boleh seperti itu sama temannya.” (Agak kesal) Kekurangan orang lain itu bukan untuk ditertawakan. Coba kamu buat pantun yang lain.”

Agra: “Iya Bu!” (masih tersenyum-senyum).

Babak II

Siang hari. Anak-anak SMP Sambo Indah pulang sekolah, Inka mendatangi Arga.

Inka: “Arga, kenapa sih kamu selalu usil? Kenapa kamu selalu mengejek aku? Memangnya kamu suka kalau diejek?” (cemberut)

Agra: (Tertawa-tawa) “Aduh…maaf deh! Kamu marah ya, In?”

Inka: “Iya dong. Habis kamu nakal. Kamu memang sengaja mengejek aku kan, biar anak-anak sekelas menertawakan aku.”

Agra: “Wah…jangan marah dong, aku kan cuma bercanda. Eh, katanya marah itu bisa menghambat pertumbuhan gigi, nanti kamu giginya dua terus, hahaha…”

Danto: (Tertawa) “Iya, Kak. Nanti ayam jago menertawakan kamu terus!”

Inka: “Huh! kalian jahat! (Berteriak) Aku nggak ngomong lagi sama kalian!” (Pergi)

Gendis: (Menghampiri Inka) “Sudahlah In, nggak usah dipikirkan. Arga kan memang usil dan nakal. Nanti kalau kita marah, dia malah tambah senang. Kita diamkan saja anak itu.

Babak III

Hari berikutnya, sewaktu istirahat pertama.

Agra: (Duduk tidak jauh dari Gendis) “Dis, nama kamu kok bagus sih. mengeja nama Gendis itu gimana?”

Gendis: “Apa sih, kamu mau mengganggu lagi, ya? Beraninya cuma sama anak perempuan.”

Agra: “Aku kan cuma bertanya, mengeja nama Gendis itu gimana. Masak gitu aja marah.”

Gendis: “Memangnya kenapa sih? (Curiga) Gendis ya mengejanya G-E-N-D-I-S dong!”

Agra: “Haaa…kamu itu gimana sih Dis. Udah SMP kok belum bisa mengeja nama sendiri dengan benar. Gendis itu mengejanya G-E-M-B-U-L. Itu kayak pamannya Bobo, hahaha….”

Teman-teman Agra: (tertawa)

Gendis: “Arga, kamu selalu begitu! Bisa nggak sih, sehari tanpa berbuat nakal? Lagi pula kamu cuma berani mengganggu anak perempuan. Dasar!” (Marah dan meninggalkan Agra).

Babak IV

Di perjalanan, hari sudah siang. Inka dan Gendis berjalan kaki pulang sekolah. Tiba-tiba di belakang mereka terdengar bunyi bel sepeda berdering[1]dering.

Agra: (Di atas sepeda) “Hoi…minggir…minggir…. Pangeran Arga yang ganteng ini mau lewat. Rakyat jelata diharap minggir.”

Inka &Gendis: (Menoleh sebal)

Agra: (Tertawa-tawa dan…. gubrak terjatuh) “Aduuuuh!”

Inka: “Rasakan kamu! (Berteriak) Makanya kalau naik sepeda itu lihat depan.”

Gendis: “Iya! Makanya kalau sama anak perempuan jangan suka nakal. Sekarang kamu kena batunya.”

Agra: (Meringis kesakitan) “Aduh…tolong, dong. Aku nggak bisa bangun nih?”

Inka: “Apa-apaan ditolong. Dia kan suka menganggu kita kita. Biar tahu rasa sekarang. Lagi pula, paling dia cuma pura-pura. Nanti kita dikerjain lagi.”

Agra: “Aduh… aku nggak pura-pura. Kakiku sakit sekali. (Merintih) Aku janji nggak akan ngerjain kalian lagi.”

Inka: (Menjadi merasa kasihan pada Agra) “Ditolong yuk, Dis.”

Gendis: “Tapi…”

Inka: “Sudahlah, kita kan nggak boleh dendam sama orang lain. Bagaimanapun, Arga kan teman kita juga.”

Gendis: (Mengangguk dan mendekati Arga).

Inka: “Apanya yang sakit, Ga?”

Agra: “Aduh…kakiku sakit sekali. Aku nggak kuat berdiri nih.”

Inka: “Gini aja Dis, kamu ke sekolah cari Pak Yan yang jaga sekolah. Pak Yan kan punya motor. Nanti Arga biar diantar pulang sama Pak Yan. Sekarang aku di sini menemai Arga.”

Gendis: (Bersemangat) “Ide yang bagus.” (Pergi menuju ke sekolah yang masih kelihatan dari tempat itu).

Agra: “In…. (Lirih) Maakan aku, ya. Aku sering nggangguin kamu, Gendis, Anggun, dan teman-teman yang lain.”

Gendis: “Makanya kamu jangan suka ngerjain orang, apalagi mengolok-olok kekurangan mereka. Jangan suka meremehkan anak perempuan. Nyatanya, kamu membutuhkan mereka

juga, kan?”

Agra: “Iya deh, aku janji nggak akan ngerjain kalian lagi.”Arga betul-betul menepati janjinya. Sejak kejadian itu, ia tak pernah mengganggu teman-temannya lagi. Arga pun jadi punya banyak sahabat, termasuk Inka dan Gendis. Mereka sering mengerjakan PR dan belajar bersama.

Agra: (Bicara sendiri) “Ternyata kalau aku nggak nakal, sahabatku tambah banyak,” pikir Arga. ”Ternyata juga, punya banyak sahabat itu menyenangkan. Kalau mereka ulang tahun kan aku jadi sering ditraktir, hihihi….”


Itu tadi penjelasan mengenai apa yang dimaksud dengan drama serta ciri dan unsur-unsurnya. Semoga bermanfaat.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *