Prinsip Kerja Sama Pragmatik dan Contoh

prinsip kerja sama

Apa yang dimaksud prinsip kerja sama pragmatik?

Berbahasa adalah aktivitas sosial yang terwujud apabila dilakukan oleh sesama manusia. Dalam hal ini terdapat aturan yang harus ditaati oleh setiap orang yang berbahasa. Dalam pembicaraan antara dua orang atau lebih, terdapat pula aturan yang disebut sebagai prinsip kerja sama. Lantas, apa saja prinsip-prinsip tersebut? Dalam artikel ini akan dibahas empat maksim kerja sama menurut Grice yang disertasi contohnya.

Dalam pembicaraan, penutur dan lawan tutur sadar akan adanya kaidah-kaidah  yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya, dan interpretasi-interpretasi terhadap tindakan serta ucapan lawan tuturnya. Maksim mempengaruhi hal-hal tersebut. Maksim tersebut adalah maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim pelaksanaan.

Dalam berbahasa sebagai komunikasi yang wajar, seorang penutur berbicara dengan maksud untuk mengomunikasikan sesuatu kepada lawan tutur agar dapat memahami apa yang ia bicarakan. Oleh karena itu, penutur selalu berusaha agar apa yang ia bicarakan selalu relevan dengan konteks, padat dan ringkas (concise), jelas dan mudah dipahami, serta selalu berfokus pada persoalan (straight forward). 

Prinsip kerja sama diperlukan agar pembicaran tidak berbelit-belit dan menghabiskan banyak waktu. Dari penjelasan diatas dapat diasumsikan bahwa ada semacam prinsip kerja sama yang harus dilakukan pembicara dengan lawan bicara agar proses komunikasi berjalan lancar.

Prinsip kerja sama Grice

Herbert Paul Grice berpendapat, dalam rangka melaksanakan prinsip kerja sama setiap penutur harus mematuhi 4 maksim percakapan. Maksim tersebut adalah maksim kuantitas (maxim of quantity), maksim kualitas (maxim of quality), maksim relevansi (maxim of relevance), dan maksim pelaksanaan (maxim of manner).

Grice membuat analogi bagi kategori-kategori maksim percakapan sebagi berikut:

  • Maksim Kuantitas

Jika anda membantu saya memperbaiki mobil, saya mengharapkan kontribusi anda tidak lebih atau tidak kurang dari apa yang saya butuhkan. Misalnya, jika pada tahap tertentu saya membutuhkan empat obeng, saya mengharapkan anda mengambilkan saya empat, bukan dua atau enam.

  • Maksim Kualitas

Saya mengharapkan kontribusi anda sungguh-sungguh, bukannya sebaliknya. Jika saya membutuhkan gula sebagai adonan kue, saya tidak mengharapkan anda memberi saya garam. Jika saya membutuhkan sendok, saya tidak mengharapkan anda mengambilkan sendok-sendokan atau sendok karet.

  • Maksim relevansi

Saya mengharapkan kontribusi teman kerja saya sesuai dengan apa yang saya butuhkan pada setiap tahapan transaksi. Jika saya mencampur bahan-bahan adonan kue, saya tidak mengharapkan diberikan buku yang bagus, atau bahkan kain oven walaupun benda yang terakhir ini saya butuhkan pada setiap tahap berikutnya.

  • Maksim cara (pelaksanaan)

Saya mengharapkan teman kerja saya memahami kontribusi yang harus dilakukannya dan melaksanakannya secara rasional.

Cek Turnitin Gratis dan Instan

Contoh 4 Maksim Menurut Grice

Perumpamaan seperti berikut dapat menjelaskan prinsip kerja sama. Misalnya seseorang yang menggunakan bentuk tuturan Tolong.

Ketika seseorang kecopetan, maka normalnya ia akan menggunakan ujaran Tolong! Situasi darurat membuat orang harus segera ditolong dan bertutur seperti itu. Kemudian ketika seseorang hendak memohon bantuan dengan keadaan yang tidak mendesak ia akan cenderung menggunakan ujaran Bisakah anda menolong saya? Oleh karena itu, akan sangat aneh apabila seseorang yang kecopetan menggunakan ujaran Bisakah anda menolong saya?

Seseorang yang menggunakan ujaran Bisakah anda menolong saya? Tidak pantas apabila berujar dengan volume suara dan intonasi seperti orang yang kecopetan. Penutur bermaksud mencapai suatu niat apabila terjadi penyimpangan dari perumpaan tersebut. Apabila implikasi tersebut kenyataannya tidak ada, maka penutur yang bersangkutan tidak melaksanakan prinsip kerja sama pragmatik atau tidak bersifat kooperatif.

Contoh Maksim Kuantitas

Maksim kuantitas menghendaki setiap orang yang bertutur memberikan kontribusi yang secukupnya dalam artian sebanyak yang dibutuhkan oleh lawan bicara. Perhatikan contoh tuturan berikut.

  1. Teman saya hamil
  2. Teman saya yang perempuan sedang hamil

Pada ujaran a lebih ringkas dan tidak menyimpang dari kebenaran (truth value) karena faktanya hanya perempuan yang dapat hamil, semua orang tahu itu. Oleh karena itu, ujaran b sifatnya berlebihan karena menambahi elemen yang perempuan. Kata hamil dalam ujaran a sifatnya sudah mewakili kaum perempuan.

Contoh implikatur maksim kuantitas juga terjadi pada saat wawancara kerja antara HRD dan pelamar. Ketika seorang HRD berujar coba ceritakan dirimu! Maka pelamar dapat dikatakan kooperatif jika ia menceritakan dirinya secara lengkap seperti nama, asal, almamater, keahlian dan sebagainya. Akan tetapi, apabila ia hanya menjawab nama dan asal saja maka dalam prinsip kerja sama ia dianggap tidak kooperatif.

Contoh Maksim Kualitas

Maksim kualitas mewajibkan setiap penutur mengatakan hal yang sebenarnya sehingga perlu bukti yang memadai. Perhatikan percakapan berikut.

Guru: Budi, coba sebutkan ibu kota Jawa Tengah!

Budi: Surabaya, pak guru.

Guru: Bagus! Kalau begitu ibu kota Jawa timur Semarang kan?

Jawaban guru yang berkata ibu kota Jawa Timur adalah Semarang melanggar maksim kualitas. Pelanggaran ini terjadi sebagai reaksi atas jawaban Budi yang salah. Dengan jawaban guru tersebut, Budi sebagai orang yang kooperatif seharusnya bertanya-tanya mengapa gurunya membuat pernyataan yang salah.

Kata bagus yang diucapkan guru tidak digunakan semestinya untuk memuji, melainkan untuk mengejek Budi. Budi sebagai orang yang kooperatif tentunya akan mencari kebenaran atas pernyataan tersebut.

Contoh Maksim Relevansi

Maksim relevansi mengharuskan setiap penutur dalam sebuah percakapan memberikan kontribusi yang relevan dengan topik pembicaraan. Perhatikan percakapan berikut.

Ibu: Ani, ada telepon untukmu.

Ani: Saya sedang di kamar mandi, bu.

Jawaban Ani dalam percakapan tersebut sekilas tidak berhubungan. Apabila dicermati, jawaban Ani mengimplikasikan bahwa ia tidak dapat mengangkat telepon dan secara tidak langsung meminta tolong ibunya untuk menerima telepon itu.

Contoh Maksim Pelaksanaan

Maksim pelaksanaan mengharuskan setiap penutur dalam percakapan berbicara secara langsung, tidak kabur, tidak taksa, tidak berlebih-lebihan, dan runtut. Konteks pembicaraan juga mengharuskan seorang penutur untuk menafsirkan kata-kata dari lawan bicaranya yang ambigu.

Perhatikan percakapan berikut.

A: Saya ini pemain gitar solo.

B: Kebetulan saya orang Solo, coba hibur saya dengan lagu daerah Solo.

Dalam pragmatik tidak mengenal adanya ambiguitas. Elemen solo tidak seharusnya dimaknai sebagai nama kota di Jawa Tengah, melainkan bermakna tunggal. Pemakaian elemen solo yang dimaknai sebagai tunggal tidak seharusnya dimaknai nama kota di Jawa Tengah.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *