Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Hikayat Beserta Contohnya

Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Hikayat Beserta Contohnya

Bagaimana karakteristik serta unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik hikayat? Simak penjelasannya berikut ini.

Jasa Translate Dokumen

Apa Itu Hikayat?

Hikayat merupakan jenis cerita rekaan dalam sastra Melayu lama yang mengisahkan keagungan dan kepahlawanan. Adakalanya, hikayat juga mengisahkan tentang sejarah atau riwayat hidup seseorang (Sudjiman, 2006, 34).

Karakteristik Hikayat

Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Hikayat Beserta Contohnya

Hikayat mempunyai karakteristik yang membedakannya dengan jenis sastra lainnya. Artini dkk (2017, 70) mengemukakan bahwa karakteristik hikayat adalah:

  • Anonim atau tanpa pengarang;
  • Istana sentris karena menceritakan tokoh yang berkaitan dengan kehidupan istana atau kerajaan;
  • Bersifat statis dan tidak berubah meskipun dimakan zaman;
  • Bersifat komunal atau menjadi milik umum;
  • Menggunakan Bahasa klise (arkais) yang diulang-ulang;
  • Bersifat tradisional karena berisi tentang berbagai tradisi yang berlaku di sebuah masyarakat saat itu;
  • Bersifat didaktis atau mengajarkan karena mengandung banyak nilai-nilai di dalamnya;
  • Menceritakan kisah universal manusia;
  • Cerita hikayat biasanya dimulai dengan kata alkisah, sebermula, arkian, syahdan, hatta, dan tersebutlah.

Unsur-Unsur Hikayat

Seperti cerpen dan karya sastra lainnya, hikayat juga memiliki unsur-unsur pembangun. Unsur tersebut terbagi menjadi dua, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik hikayat. Unsur intrinsik hikayat berasal dari dalam, sedangkan unsur ekstrinsik hikayat berasal dari luar cerita.

Unsur Intrinsik Hikayat

Jasa Subtitle Youtube dan Film

Unsur instrinsik hikayat adalah unsur pembangun yang berasal dari dalam cerita hikayat itu sendiri. Baried dalam Pertiwi (2009, hlm. 48) menyatakan bahwa unsur intrinsik dalam hikayat terdiri dari, tema, latar, alur, tokoh atau penokohan, dan sudut pandang pengarang.

Tema

Unsur intrinsik hikayat yang pertama adalah tema. Tema merupakan ide atau gagasan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Dikutip dari beberapa sumber, tema dibagi menjadi dua, yaitu tema mayor dan tema minor. Tema mayor merupakan tema yang sangat menonjol dan menjadi persoalan utama. Sementara tema minor adalah tema yang tidak begitu menonjol.

Tema dalam hikayat itu beragam bergantung pada kaca mata yang kita gunakan dalam melihat keberadaan tema itu sendiri. Supayalebih jelas, berikut beberapa contoh tema hikayat:

  • Kejahatan awal, akhir-akhirnya akan dapat hukumannya;
  • Cinta terhadap tanah air lebih penting dari pada harta benda atau kedudukan;
  • Cinta akan mengatasi segala kesulitan;
  • Jika orang sudah kehilangan semua, baru teringat kembali pada Tuhan.

Tokoh dan Penokohan

Tokoh merupakan pelaku dalam suatu karya sastra. Umumnya, tokoh dalam karya sastra terbagi menjadi dua, yaitu tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama merupakan tokoh yang paling sering muncul dalam cerita, sedangkan tokoh tambahan merupakan tokoh yang jarang muncul di dalam cerita.

Sementara penokohan adalah teknik atau cara dalam menampilkan watak dari tokoh yang ada di dalam cerita. Terdapat beberapa cara yang biasa digunakan untuk menggambarkan watak tokoh, diantaranya:

  • Melalui perilaku atau gerak-gerik tokoh;
  • Penggambaran fisik dan sifat yang digambarkan pengarang;
  • Melalui dialog antartokoh yang bersangkutan;
  • Penggambaran lingkungan kehidupan tokoh;
  • Pengungkapan jalan pikiran tokoh;
  • Penggambaran oleh tokoh lainnya.

Latar

Unsur intrinsik hikayat selanjutnya adalah latar. Pertiwi (2009, hlm. 54) berpendapat bahwa latar itu menyangkut hajat hidup para tokoh. Maka dari itu, latar dalam cerita mencangkup lingkungan dan aspeknya yang lebih luas. Tidak hanya mempersoalkan tempat tetapi juga waktu.

Menurut Sudjiman (1988, 87) latar merupakan segala keterangan atau petunjuk pengacuan yang berhubungan dengan waktu ruang, dan suasana mengenai suatu kejadian atau peristiwa yang terjadi di dalam cerita. Dari pernyataan tersebut, kita tahu jika latar dibagi menjadi tiga, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar suasana. Baried dalam Pertiwi (2009, hlm. 56) mengemukakan bahwa dalam hikayat umumnya mengambil latar hutan, laut, pelabuhan, dan pantai.

Alur

Alur atau plot merupakan rangkaian peristiwa yang mempunyai hubungan sebab akibat sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Sementara pengaluran adalah teknik dalam menampilkan alur cerita hikayat.

Jika ditinjau berdasarkan kualitasnya, pengaluran dibedakan menjadi alur erat dan alur longgar. Alur erat adalah jenis alur yang tidak memungkinkan adanya pencabangan cerita. Sementara alur lur lurus merupakan jenis alur yang memungkinkan terjadinya pencabangan dalam cerita.

Sudut Pandang

Sudut pandang adalah teknik atau cara pandang penulis dalam menceritakan para pelaku dalam cerita. Terdapat tiga sudut pandang, yaitu sudut pandang orang pertama, sudut pandang orang kedua, dan sudut pandang orang ketiga.

Pada hikayat, sudut pandang yang biasa digunakan adalah sudut pandang orang ketiga. Penulis berperan sebagai dalang. Seorang penulis hikayat seakan-akan mengetahui apa saja yang terjadi di dalam cerita hikayat. Ia mengetahui apa saja yang dilakukan dan dipikirkan oleh pelaku-pelakunya.

Unsur Ekstrinsik Hikayat

Dalam Wallek dan Warren (Rokhmansyah, 2014:
33) menyatakan bahwa unsur ekstrinsik hikayat dan karya sastra lainnya meliputi:

  • unsur biografi;
  • unsur psikologis;
  • keadaan lingkungan;
  • dan pandangan hidup pengarang.

Sementara menurut Kosasih (2012: 72) unsur ekstrinsik hikayat meliputi:

  • latar belakang pengarang
  • kondisi sosial budaya
  • dan tempat novel dikarang.

Contoh Hikayat Bayan Budiman

Berikut adalah contoh hikayat Bayan Budiman yang dikutip dari buku Bahasa Indonesia Kelas X.


Sebermula ada saudagar di negara Ajam. Khojan Mubarok namanya, terlalu amat kaya, akan tetapi ia tiada beranak. Tak seberapa lama setelah ia berdoa kepada Tuhan, maka saudagar Mubarok pun beranaklah istrinya seorang anak laki-laki yang diberi nama Khojan Maimun.

Setelah umurnya Khojan Maimun lima tahun, maka diserahkan oleh bapaknya mengaji kepada banyak guru sehingga sampai umur Khojan Maimun lima belas tahun. Ia dipinangkan dengan anak saudagar yang kaya, amat elok parasnya, namanya Bibi Zainab. Hatta beberapa lamanya Khojan Maimun beristri itu, ia membeli seekor burung bayan jantan. Maka beberapa di antara itu ia juga membeli seekor tiung betina, lalu di bawanya ke rumah dan ditaruhnya hampir sangkaran bayan juga.

Pada suatu hari Khojan Maimun tertarik akan perniagaan di laut, lalu minta izinlah dia kepada istrinya. Sebelum dia pergi, berpesanlah dia pada istrinya itu, jika ada barang suatu pekerjaan, mufakatlah dengan dua ekor unggas itu, hubaya-hubaya jangan tiada, karena fitnah di dunia amat besar lagi tajam daripada senjata.

Hatta beberapa lama ditinggal suaminya, ada anak Raja Ajam berkuda lalu melihatnya rupa Bibi Zainab yang terlalu elok. Berkencanlah mereka untuk bertemu melalui seorang perempuan tua. Maka pada suatu malam, pamitlah Bibi Zainab kepada burung tiung itu hendak menemui anak raja itu. Maka bernasihatlah ditentang perbuatannya yang melanggar aturan Allah Swt. Maka marahlah istri Khojan Maimun dan disentakkannya tiung itu dari sangkarnya dan dihempaskannya sampai mati.

Lalu Bibi Zainab pun pergi mendapatkan bayan yang sedang berpurapura tidur. Maka bayan pun berpura-pura terkejut dan mendengar kehendak hati Bibi Zainab pergi mendapatkan anak raja. Maka bayan pun berpikir bila ia menjawab seperti tiung maka ia juga akan binasa. Setelah ia sudah berpikir demikian itu, maka ujarnya, “Aduhai Siti yang baik paras, pergilah dengan segeranya mendapatkan anak raja itu. Apa pun hamba ini haraplah tuan, jikalau jahat sekalipun pekerjaan tuan, Insya Allah di atas kepala hambalah menanggungnya. Baiklah tuan sekarang pergi, karena sudah dinanti anak raja itu. Apatah dicari oleh segala manusia di dunia ini selain martabat, kesabaran, dan kekayaan? Adapun akan hamba, tuan ini adalah seperti hikayat seekor unggas bayan yang dicabut bulunya oleh tuannya seorang istri saudagar.”

Maka berkeinginanlah istri Khojan Maimun untuk mendengarkan cerita tersebut. Maka Bayanpun berceritalah kepada Bibi Zainab dengan maksud agar ia dapat memperlalaikan perempuan itu. Hatta setiap malam, Bibi Zainab yang selalu ingin mendapatkan anak raja itu, dan setiap berpamitan dengan bayan. Maka diberilah ia cerita-cerita hingga sampai 24 kisah dan 24 malam. Burung tersebut bercerita, hingga akhirnyalah Bibi Zainab pun insaf terhadap perbuatannya dan menunggu suaminya Khojan Maimum pulang dari rantauannya.

Burung Bayan tidak melarang malah dia menyuruh Bibi Zainab meneruskan rancangannya itu, tetapi dia berjaya menarik perhatian serta melalaikan Bibi Zainab dengan cerita-ceritanya. Bibi Zainab terpaksa menangguh dari satu malam ke satu malam pertemuannya dengan putera raja. Begitulah seterusnya sehingga Khoja Maimun pulang dari pelayarannya.

Bayan yang bijak bukan sahaja dapat menyelamatkan nyawanya, tetapi juga dapat menyekat isteri tuannya daripada menjadi isteri yang curang. Dia juga dapat menjaga nama baik tuannya serta menyelamatkan rumah tangga tuannya. Antara cerita bayan itu ialah mengenai seekor bayan yang mempunyai tiga ekor anak yang masih kecil. Ibu bayan itu menasihatkan anak-anaknya supaya jangan berkawan dengan anak cerpelai yang tinggal berhampiran. Ibu bayan telah bercerita kepada anak-anaknya tentang seekor anak kera yang bersahabat dengan seorang anak saudagar. Pada suatu hari mereka berselisih faham. Anak saudagar mendapat luka di tangannya. Luka tersebut tidak sembuh melainkan diobati dengan hati kera. Maka saudagar itupun menangkap dan membunuh anak kera itu untuk mengobati anaknya.

Sumber: Kesusasteraan Melayu Klasik dengan penyesuaian


Leave a comment

Your email address will not be published.