Pengertian Hikayat, Ciri-Ciri, Fungsi, Nilai, Jenis, dan Contoh Hikayat

Pengertian Hikayat, Ciri-Ciri, Fungsi, Nilai, Jenis, dan Contoh Hikayat

Apa pengertian hikayat dan bagaimana ciri-cirinya? Simak pengertian, ciri-ciri, fungsi, jenis, nilai, dan contoh hikayat berikut ini.

Jasa Translate Dokumen

Apa yang Dimaksud dengan Hikayat?

Hikayat adalah salah satu jenis sastra Melayu tradisional. Secara etimologis kata hikayat berasal dari bahasa Arab hikayat yang artinya cerita, kisah, atau dongeng (Hava, 1951, 137). Kata ini diturunkan dari kata kerja haka yang berarti ‘menceritakan, atau mengatakan sesuatu kepada orang lain’.

Dalam bahasa Melayu, arti hikayat adalah cerita, cerita kuno, atau cerita lama dalam bentuk prosa (Iskandar, 1970, 364). Sementara dalam sastra Indonesia, hikayat diartikan sebagai cerita rekaan berbentuk prosa yang panjang. Hikayat termasuk ke dalam sastra lama yang ditulis dengan bahasa Melayu. Umumnya hikayat mengisahkan kepahlawanan atau kehebatan dari orang ternama, seperti para raja atau orang suci di sekitar istana yang memiliki kesaktian atau mukjizat (Anonim, 1997, 427).

Pengertian Hikayat Menurut Para Ahli

Pengertian Hikayat, Ciri-Ciri, Jenis, Fungsi, dan Contoh Hikayat
(freepik.com/stories)

Para ahli mendefinisikan hikayat secara beragam. Berikut pengertian hikayat menurut para ahli.

Pengertian Hikayat Menurut KBBI

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, hikayat didefinisikan sebagai karya sastra Melayu lama berbentuk prosa yang berisi cerita, undang-undang, dan silsilah bersifat rekaan, keagamaan, historis, biografi, atau gabungan sifat-sifat dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekadar untuk meramaikan pesta.

Pengertian Hikayat Menurut Sudjiman

Menurut Sudjiman (2006, 34), pengertian dari hikayat adalah jenis cerita rekaan dalam sastra Melayu lama yang mengisahkan keagungan dan kepahlawanan. Adakalanya, hikayat juga menceritakan kisah mengenai sejarah atau riwayat hidup seseorang.

Pengertian Hikayat Menurut Hooykaas

Hooykaas (1947, 119) mengemukakan bahwa pengertian hikayat secara umum adalah cerita yang berbentuk prosa. Sementara dalam arti yang lebih sempit, hikayat adalah cerita panjang dalam bahasa Melayu yang berisi khalayan atau roman. Cerita ini berasal dari India, Persi, dan Arab.

Pengertian Hikayat Menurut Pertiwi

Pertiwi (2009, 45) mengemukakan bahwa hikayat adalah karya sastra yang termasuk ke dalam jenis folklor. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Folklor adalah cerita rakyat yang tidak dibukukan dan diwariskan secara turun-temurun secara lisan.

Baca juga: Pengertian Cerpen, Fungsi, Ciri, Kaidah Kebahasaan, dan Contohnya

Fungsi Hikayat

Dalam Buku Siswa (2015, 142) disebutkan bahwa hikayat termasuk ke dalam cerita rakyat yang perlu dilestarikan. Hal ini karena hikayat atau cerita rakyat merupakan warisan budaya dari nenek moyang kepada generasi muda. Setidaknya terdapat tiga fungsi hikayat yang membuat kita harus melestarikannya. Menurut Buku Siswa (2015, 142) fungsi hikayat adalah:

  • Sebagai sarana hiburan, karena hikayat berisi cerita atau kisah yang dapat menghibur pendengar atau pembaca.
  • Sebagai sarana pendidikan, karena di dalamnya terdapat nilai-nilai yang bisa diteladani oleh pendengar atau pembaca.
  • Sarana untuk melestarikan budaya bangsa karena di dalam hikayat terdapat nilai sosial dan budaya suatu bangsa.

Karakteristik atau Ciri-Ciri Hikayat

Jasa Parafrasa

Cerita hikayat mempunyai karakteristik atau ciri-ciri yang membedakannya dengan cerita lainnya. Berikut ini adalah ciri-ciri hikayat.

Bersifat Anonim

Salah satu ciri hikayat adalah anonim yang berarti tidak diketahui siapa pengarangnya. Penyebabnya, cerita hikayat pertama kali berkembang di tengah masyarakat tradisional yang masih belum terbiasa dengan tulisan. Di masa itu, cerita hikayat disebarluaskan secara lisan, dari mulut ke mulut. Jadi tidak heran jika cerita tersebut tidak diketahui siapa pengarangnya.

Istana Sentris

Ciri-ciri hikayat yang lainnya adalah bersifat istana sentris. Hal ini karena isi ceritanya berkisar pada tokoh-tokoh kerajaan. Biasanya, hikayat mengisahkan kehebatan orang ternama, seperti para raja atau orang suci di sekitar istana yang mempunyai kesaktian.

Bersifat Pralogis

Ciri-ciri hikayat adalah bersifat pralogis. Artinya, cerita dalam hikayat mempunyai logika sendiri yang tidak sama dengan logika pada umumnya. Ada juga yang menyebutnya hikayat sebagai karya sastra yang bersifat fantastis atau tidak masuk akal. Hal ini karena di dalam cerita hikayat biasanya terdapat tokoh yang mempunyai kesaktian atau yang mengalami kejadian aneh. Misalnya tokoh Raja Muhammad dalam cerita Hikayat Raja-Raja Pasai memperoleh anak putri di dalam sebatang bambu di tengah hutan.

Menggunakan Kata-Kata Arkais

Hikayat termasuk dalam karya sastra lama. Bahasa yang digunakan dalam hikayat adalah bahasa Melayu klasik. Jadi tidak heran jika di dalam hikayat terdapat kata-kata arkais yang tidak lazim digunakan saat ini. Selain itu, cerita hikayat juga menggunakan struktur kalimat yang tidak efektif sehingga sulit dipahami.

Bersifat Didaktis

Ciri hikayat selanjutnya adalah bersifat didaktis atau mendidik. Hal ini karena di dalam cerita hikayat biasanya mengandung banyak nilai-nilai yang mendidik.

Baca juga: Jenis-Jenis Puisi Lama dan Baru Beserta Ciri-Ciri dan Contohnya

Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Hikayat

Nilai merupakan sesuatu yang berharga dan berguna bagi manusia. Menurut Suherli, dkk, terdapat enam nilai dalam hikayat, yaitu nilai budaya, moral, agama, pendidikan, estetis, dan sosial. Berikut penjelasan dari nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat.

1. Nilai Budaya

Salah satu nilai yang terkandung dalam hikayat adalah nilai budaya. Nilai budaya adalah nilai yang diambil dari budaya atau adat istiadat yang berkembang secara turun temurun di masyarakat. Salah satu ciri dari nilai budaya adalah masyarakatnya takut meninggalkannya karena takut jika sesuatu yang buruk akan terjadi.

2. Nilai Moral

Nurgiantoro (2010, 320) mengemukakan bahwa nilai moral berisi tentang ajaran baik buruk yang diterima oleh khalayak umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya. Moral berkaitan dengan akhlak, budi pekerti, dan Susila. Nurgiantoro (2010, 321) juga mengemukakan bahwa moral dalam karya sastra umumnya mencerminkan mengenai pandangan hidup pengarang yang ingin disampaikan kepada pembaca.

3. Nilai Agama/Religi

Nilai agama/religius adalah yang berhubungan dengan masalah keagamaan. Jenis nilai ini berhubungan erat dengan konsep ketuhanan, dosa-pahala, dan surga-neraka.

4. Nilai Estetis

Menurut Sudjiman (2006, 30) nilai estetis adalah emosi dan pikiran yang berhubungan dengan keindahan dalam sastra. Keindahan ini terlepas dari pertimbangan-pertimbangan moral, sosial, politik praktis, dan ekonomis. Secara umum, nilai estetika yang terkandung dalam hikayat berkaitan dengan bahasa dalam seni sastra.

5. Nilai Sosial

Nilai sosial adalah nilai yang berhubungan dengan kehidupan di dalam masyarakat. Umumnya, nilai sosial berupa pesan atau nasihat yang berkaitan dengan kemasyarakatan. Indikasi nilai sosial dikaitkan dengan kelayakan jika diterapkan dalam kehidupan sehari-sehari terutama saat berinteraksi dengan masyarakat.

6. Nilai Edukasi

Nilai edukasi adalah nilai yang berhubungan dengan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang/kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan.

Jenis Hikayat

Jenis hikayat ada bermacam-macam tergantung aspek yang dilihat. Dikutip dari berbagai sumber, jenis hikayat dibagi menjadi dua, yaitu berdasarkan isi dan berdasarkan asalnya.

Jenis Hikayat Berdasarkan Isi

Dalam buku Memahami Hikayat Dalam Sastra Indonesia (1985, 27), disebutkan bahwa jika kita amati ternyata di dalam karya hikayat memiliki tiga unsur utama, yaitu unsur rekaan, sejarah, dan biografi. Maka dari itu, jika ditinjau berdasarkan isinya, hikayat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu jenis rekaan, sejarah, biografi.

Contoh Hikayat Jenis Rekaan

  • Hikayat Malam Dewa
  • Hikayat Si Miskin

Contoh Hikayat Jenis Sejarah

  • Hikayat Patani
  • Hikayat Raja-Raja Pasai

Contoh Hikayat Jenis Biografi

  • Hikayat Sultan Ibrahim ibn Adham
  • Hikayat Abdullah.

Jenis Hikayat Berdasarkan Asalnya

Jika ditinjau berdasarkan asalnya, jenis hikayat dibagi menjadi hikayat melayu, hikayat pengaruh Jawa, hikayat pengaruh Hindu, hikayat Arab-Persia, dan masih banyak lagi.

Contoh Hikayat Melayu

  1. Hikayat Hang Tuah
  2. Hikayat si Miskin

Contoh Hikayat Jawa

  1. Hikayat Panji Semirang
  2. Hikaya Indera Jaya

Contoh Hikayat India

  1. Hikayat Bayan Budiman
  2. Hikayat Sang Boma

Contoh Hikayat Arab-Persia

  1. Hikayat Amir Hamzah
  2. Hikayat Seribu Satu Malam

Contoh Hikayat Indera Bangsawan

Berikut adalah contoh hikayat Indera Bangsawan yang dikutp dari Buku Kesusastraan Melayu Klasik.


Hikayat Indera Bangsawan

Tersebutlah perkataan seorang raja yang bernama Indera Bungsu dari Negeri Kobat Syahrial. Setelah berapa lama di atas kerajaan, tiada juga beroleh putra. Maka pada suatu hari, ia pun menyuruh orang membaca doa qunut dan sedekah kepada fakir dan miskin. Hatta beberapa lamanya, Tuan Puteri Siti Kendi pun hamillah dan bersalin dua orang putra laki-laki. Adapun yang tua keluarnya dengan panah dan yang muda dengan pedang.

Maka baginda pun terlalu amat sukacita dan menamai anaknya yang tua Syah Peri dan anaknya yang muda Indera Bangsawan. Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji, mereka dititah pula mengaji kitab usul, fikih, hingga saraf, tafsir sekaliannya diketahuinya. Setelah beberapa lamanya, mereka belajar pula ilmu senjata, ilmu hikmat, dan isyarat tipu peperangan. Maka baginda pun bimbanglah, tidak tahu siapa yang patut dirayakan dalam negeri karena anaknya kedua orang itu sama-sama gagah. Jikalau baginda pun mencari muslihat; ia menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia bermimpi bertemu dengan seorang pemuda yang berkata kepadanya: barang siapa yang dapat mencari buluh perindu yang dipegangnya, ialah yang patut menjadi raja di dalam negeri.

Setelah mendengar kata-kata baginda, Syah Peri dan Indera Bangsawan pun bermohon pergi mencari buluh perindu itu. Mereka masuk hutan keluar hutan, naik gunung turun gunung, masuk rimba keluar rimba, menuju ke arah matahari hidup.

Maka datang pada suatu hari, hujan pun turunlah dengan angin ribut, taufan, kelam kabut, gelap gulita dan tiada kelihatan barang suatu pun. Maka Syah Peri dan Indera Bangsawan pun bercerailah. Setelah teduh hujan ribut, mereka pun pergi saling cari mencari.

Tersebut pula perkataan Syah Peri yang sudah bercerai dengan saudaranya Indera Bangsawan. Maka ia pun menyerahkan dirinya kepada Allah Subhanahuwata’ala dan berjalan dengan sekuat-kuatnya.

Beberapa lama di jalan, sampailah ia kepada suatu taman, dan bertemu sebuah mahligai. Ia naik ke atas mahligai itu dan melihat sebuah gendang tergantung. Gendang itu dibukanya dan dipukulnya. Tiba-tiba ia terdengar orang yang melarangnya memukul gendang itu. Lalu diambilnya pisau dan ditorehnya gendang itu, maka Puteri Ratna Sari pun keluarlah dari gendang itu. Puteri Ratna Sari menerangkan bahwa negerinya telah dikalahkan oleh Garuda. Itulah sebabnya ia ditaruh orang tuanya dalam gendang itu dengan suatu cembul. Di dalam cembul yang lain ialah perkakas dan dayang-dayangnya. Dengan segera Syah Peri mengeluarkan dayang-dayang itu. Tatkala Garuda itu datang, Garuda itu dibunuhnya. Maka Syah Peri pun duduklah berkasih-kasihan dengan Puteri Ratna Sari sebagai suami istri dihadap oleh segala dayang-dayang dan inang pengasuhnya.

Tersebut pula perkataan Indera Bangsawan pergi mencari saudaranya. Ia sampai di suatu padang yang terlalu luas. Ia masuk di sebuah gua yang ada di padang itu dan bertemu dengan seorang raksasa. Raksasa itu menjadi neneknya dan menceritakan bahwa Indera Bangsawan sedang berada di negeri Antah Berantah yang diperintah oleh Raja Kabir.

Adapun Raja Kabir itu takluk kepada Buraksa dan akan menyerahkan putrinya, Puteri Kemala Sari sebagai upeti. Kalau tiada demikian, negeri itu akan dibinasakan oleh Buraksa. Ditambahkannya bahwa Raja Kabir sudah mencanangkan bahwa barang siapa yang dapat membunuh Buraksa itu akan dinikahkan dengan anak perempuannya yang terlalu elok parasnya itu. Hatta berapa lamanya Puteri Kemala Sari pun sakit mata, terlalu sangat. Para ahli nujum mengatakan hanya air susu harimau yang beranak mudalah yang dapat menyembuhkan penyakit itu. Baginda bertitah lagi. “Barang siapa yang dapat susu harimau beranak muda, ialah yang akan menjadi suami tuan puteri.”

Setelah mendengar kata-kata baginda, si Hutan pun pergi mengambil seruas buluh yang berisi susu kambing serta menyangkutkannya pada pohon kayu. Maka ia pun duduk menunggui pohon itu. Sarung kesaktiannya dikeluarkannya, dan rupanya pun kembali seperti dahulu kala. Bahasa Indonesia 109 Hatta datanglah kesembilan orang anak raja meminta susu kambing yang disangkanya susu harimau beranak muda itu. Indera Bangsawan berkata susu itu tidak akan dijual dan hanya akan diberikan kepada orang yang menyediakan pahanya diselit besi hangat. Maka anak raja yang sembilan orang itu pun menyingsingkan kainnya untuk diselit Indera Bangsawan dengan besi panas. Dengan hati yang gembira, mereka mempersembahkan susu kepada raja, tetapi tabib berkata bahwa susu itu bukan susu harimau melainkan susu kambing. Sementara itu, Indera Bangsawan sudah mendapat susu harimau dari raksasa (neneknya) dan menunjukkannya kepada raja.

Tabib berkata itulah susu harimau yang sebenarnya. Diperaskannya susu harimau ke mata Tuan Puteri. Setelah genap tiga kali diperaskan oleh tabib, maka Tuan Puteri pun sembuhlah. Adapun setelah Tuan Puteri sembuh, baginda tetap bersedih. Baginda harus menyerahkan tuan puteri kepada Buraksa, raksasa laki-laki apabila ingin seluruh rakyat selamat dari amarahnya. Baginda sudah kehilangan daya upaya.

Hatta sampailah masa menyerahkan Tuan Puteri kepada Buraksa. Baginda berkata kepada sembilan anak raja bahwa yang mendapat jubah Buraksa akan menjadi suami Puteri. Untuk itu, nenek Raksasa mengajari Indera Bangsawan. Indera Bangsawan diberi kuda hijau dan diajari cara mengambil jubah Buraksa yaitu dengan memasukkan ramuan daun-daunan ke dalam gentong minum Buraksa. Saat Buraksa datang hendak mengambil Puteri, Puteri menyuguhkan makanan, buah-buahan, dan minuman pada Buraksa. Tergoda sajian yang lezat itu tanpa pikir panjang Buraksa menghabiskan semuanya lalu meneguk habis air minum dalam gentong.

Tak lama kemudian Buraksa tertidur. Indera Bangsawan segera membawa lari Puteri dan mengambil jubah Buraksa. Hatta Buraksa terbangun, Buraksa menjadi lumpuh akibat ramuan daun-daunan dalam air minumnya.

Kemudian sembilan anak raja datang. Melihat Buraksa tak berdaya, mereka mengambil selimut Buraksa dan segera menghadap Raja. Mereka hendak mengatakan kepada Raja bahwa selimut Buraksa sebagai jubah Buraksa.

Sesampainya di istana, Indera Bangsawan segera menyerahkan Puteri dan jubah Buraksa. Hata Raja mengumumkan hari pernikahan Indera Bangsawan dan Puteri. Saat itu sembilan anak raja datang. Mendengar pengumuman itu akhirnya mereka memilih untuk pergi. Mereka malu kalau sampai niat buruknya berbohong diketahui raja dan rakyatnya.

Sumber: Buku Kesusastraan Melayu Klasik


Butuh Jasa Translate untuk Menerjemahkan Hikayat?

Itu tadi penjelasan mengenai pengertian hikayat beserta ciri-ciri, fungsi, jenis, dan contoh hikayat. Semoga setelah membaca ini kamu paham apa yang dimaksud dengan hikayat dan bisa membedakannya dengan cerita lainnya.

Nah, jika kamu sedang membutuhkan bantuan untuk menerjemahkan hikayat atau cerita lainnya, Xerpihan siap membantu. Kami menyediakan jasa translate untuk berbagai topik, mulai dari sastra, bisnis, akademik, kreatif, dan masih banyak lagi.

Leave a comment

Your email address will not be published.