Struktur Teks Ulasan Beserta Contoh dan Langkah Menyusunnya

Struktur Teks Ulasan Beserta Contoh dan Langkah Menyusunnya

Apa saja struktur teks ulasan dan bagaimana cara membuatnya? Berikut penjelasan mengenai struktur, contoh, dan langkah-langkah menyusun teks ulasan.

Teks ulasan merupakan jenis teks yang mengulas karya, seperti buku, film, atau drama. Melalui teks ulasan ini, penulis ingin memberikan tanggapan dan penilaian mengenai suatu karya sastra. Tujuannya teks tersebut dapat menjadi pertimbangan pembaca apakah suatu karya layak untuk dinikmati atau tidak.

Jasa Translate Dokumen

Struktur Teks Ulasan

Struktur adalah suatu susunan unsur atau bagian yang saling berhubungan untuk membentuk satu kesatuan. Struktur ini digunakan penulis agar menghasilkan tulisan yang padu dan mudah dibaca. Pada dasarnya setiap jenis teks, termasuk teks ulasan, memiliki strukturnya masing-masing. Akan tetapi, para ahli berbeda pendapat mengenai urutan struktur teks ulasan yang benar. Untuk lebih jelasnya berikut akan disampaikan beberapa struktur teks ulasan menurut para ahli

Struktur Teks Ulasan Menurut Mort

Jasa Proofreading Dokumen

Mort, dkk dalam Apriati (2015, 12) berpendapat bahwa struktur teks ulasan terdiri dari empat bagian, yaitu orientasi, tafsiran, evaluasi, dan rangkuman.

1. Orientasi

Menurut Mort, struktur teks ulasan yang pertama adalah orientasi. Bagian ini berisi gambaran umum karya sastra yang akan diulas, baik itu buku, film, drama, cerpen maupun lagu.

2. Tafsiran

Tafsiran berisi penjelasan detail mengenai karya yang diulas. Pada bagian ini, penulis biasanya akan membahas bagian-bagian dari suatu karya serta memaparkan nilai-nilai yang menjadi keunikan, kelebihan, dan kekurangan karya yang diulas. Selain itu, penulis biasanya juga membandingkan karya tersebut dengan karya yang mirip.

 3. Evaluasi

Sesuai namanya, bagian evaluasi berisi tentang evaluasi penulis terhadap karya yang diulas. Penulis akan memberikan penilaian mengenai kualitas karya yang diulas. Dalam melakukan evaluasi, penulis harus mempertimbangkan kriteria ulasan yang spesifik dan seimbang. Evaluasi yang baik sebaiknya mencantumkan sumber atau referensi yang mendukung evaluasi.

4. Rangkuman

Struktur teks ulasan yang terakhir adalah rangkuman. Pada bagian ini, penulis akan memberikan ulasan akhir berupa simpulan karya tersebut dengan mengemukakan kembali opininya secara keseluruhan. Di bagian ini penulis akan memberikan pendapatnya, apakah karya tersebut mempunyai kualitas yang layak untuk dinikmati atau tidak.

Struktur Teks Ulasan Menurut Kosasih

Jasa Subtitle Youtube dan Film

Kosasih (2014, 206) berpendapat bahwa urutan teks ulasan yang benar adalah pengenalan isu-pemaparan argumen-penilaian dan rekomendasi

1. Pengenalan isu

Menurut Kosasih (2014, 2016) bagian pertama dari struktur teks ulasan adalah pengenalan isu. Bagian ini berisi identitas buku atau film yang diulas dan sinopsisnya. Identitas yang biasa dicantumkan dalam sebuah teks ulasan buku adalah judul, nama penulis, penerbit, dan tahun terbit.

2. Pemaparan Argumen

Bagian kedua dari teks ulasan adalah pemaparan argumen. Bisa dibilang bagian ini merupakan bagian inti dari teks ulasan. Hal ini karena di bagian ini, penulis akan memaparkan analisisnya terhadap unsur-unsur karya yang diulas berdasarkan perspektif tertentu. Pada bagian ini, penulis juga akan mencantumkan fakta pendukung untuk memperkuat argumennya.

3. Penilaian dan rekomendasi

Bagian ini berisi penilaian penulis mengenai kualitas karya yang diulas, mulai dari keunggulan dan kelemahannya hingga kritik dan saran. Selain itu, ada juga beberapa penulis teks ulasan yang mencantumkan skor dari karya yang diulas.

Struktur Teks Ulasan Menurut Isnatun dan Farida

Struktur Teks Ulasan Beserta Contoh dan Langkah Menyusunnya

Menurut Isnatun dan Farida dalam Apriati (2015, 11), struktur teks ulasan terdiri dari lima bagian, yaitu judul, data, pendahuluan, isi, dan simpulan.

1. Judul

Bagian pertama dari struktur teks ulasan menurut Isnatun dan Farida adalah judul ulasan. Bagian judul ini memuat inti dari ulasan yang ditulis.

2. Data

Pada teks ulasan, identitas buku terdapat pada bagian data. Identitas yang biasa dicantumkan dalam sebuah teks ulasan buku adalah judul, nama penulis, penerbit, dan tahun terbit. Sementara identitas yang biasa dicantumkan dalam teks ulasan film adalah judul, genre, sutradara, penulis naskah, produser, durasi, tanggal rilis, dan negara asal.

3. Pendahuluan

Bagian pendahuluan berisi latar belakang atau gambaran awal dari topik yang akan diulas. Penulis biasanya akan memaparkan secara singkat mengenai pembuat karya dan keunikan karya yang sedang diulas.

4. Isi

Bagian isi terdiri dari dua bagian penting, yaitu sinopsis dan evaluasi. Sinopsis merupakan ringkasan mengenai alur cerita dari buku atau film yang diulas. Sementara evaluasi berisi opini atau penilaian penulis terhadap karya yang diulas.

5. Simpulan

Bagian yang terakhir dari teks ulasan adalah simpulan. Bagian ini berisi penegasan ulang opini penulis terhadap karya yang diulas. Di bagian ini penulis juga akan memberikan pertimbangan apakah karya tersebut layak dinikmati atau tidak.

Struktur Teks Ulasan Menurut Pardiyono

Sementara menurut Pardiyono dalam Apriati (2015, 12), urutan struktur teks ulasan yang benar adalah

  1. Tittle, berisi judul yang dibuat oleh penulis ulasan
  2. Identification, berisi gambaran awal mengenai karya yang akan diulas.
  3. Summary of work+evaluation, berisi ringkasan/sinopsis dan komentar penulis terhadap karya yang diulas
  4. Author and publisher, berisi penulis dan penerbit karya yang diulas.

Berdasarkan beberapa struktur teks ulasan di atas dapat kita simpulkan bahwa semua tipe struktur teks di atas memiliki tujuan yang sama. Secara keseluruhan struktur tersebut bertujuan untuk mengupas karya dilihat dari sisi kelebihan dan kekurangan karya tersebut. Penulis teks ulasan akan memaparkan ringkasan dari karya serta unsur-unsur yang terdapat di dalamnya untuk memberikan gambaran kepada pembaca mengenai isi dari karya yang diulas. Setelah itu, penulis akan memberikan pendapatnya mengenai keunikan, kelebihan, dan kekurangan karya tersebut sebagai dasar penilaian apakah karya tersebut layak untuk dinikmati atau tidak.

Cara Membuat Teks Ulasan

Apabila ingin membuat teks ulasan yang baik, kita perlu memperhatikan kaidah penulisannya. Tujuannya supaya pembaca mudah memahami maksud dari tulisan kita. Menurut Zainurrahman (2013, 17) gaya penulisan yang  bertele-tele akan membuat tulisan kita tidak menarik. Pembaca akan malas melanjutkan jika hal yang sudah dipahami diuraikan lagi secara panjang lebar. Maka dari itu, penulis harus bisa membuat uraiannya menarik dan tidak melelahkan pembaca.

Dalam mengulas suatu karya ke dalam bentuk teks ulasan, penulis sebaiknya menulisnya secara rinci dan singkat tetapi mengandung makna yang jelas dan menarik. Nah, supaya kita lebih mudah membuatnya, perhatikan langkah-langkah menyusun teks ulasan berikut ini.

Langkah-Langkah Menyusun Teks Ulasan Buku

Menurut Samad (1997, 6) langkah-langkah menyusun teks ulasan buku adalah:

  1. Pengenalan terhadap buku yang akan diulas;
  2. Membaca buku yang akan diresensi secara komprehensif, cermat, dan teliti;
  3. Menandai bagian-bagian buku yang diperhatikan secara khusus dan menentukan bagian-bagian yang dikutip untuk dijadikan data;
  4. Membuat sinopsis atau inti sari dari buku yang diresensi;
  5. Menentukan sikap dan menilai hal-hal yang berkenaan dengan organisasi penulisan, bobot ide, aspek bahasanya, dan aspek tekniknya;
  6. Mengoreksi dan merevisi.

Langkah-Langkah Menyusun Teks Ulasan Film

Menurut Kosasih (2014, 213) langkah-langkah menyusun teks ulasan film adalah:

  1. Mengenal film yang ingin diulas;
  2. Mencatat identitas film, seperti judul, pengarang, sutradara, waktu, dan tempat penayangan;
  3. Menonton film yang akan diulas;
  4. Mencatat peristiwa atau adegan-adegan penting yang terjadi di dalamnya;
  5. Memberikan tanggapan terhadap film yang diulas;

Contoh Teks Ulasan Buku

Berikut contoh teks ulasan buku yang dikutip dari Buku Bahasa Indonesia.


RENTANG KISAH

Judul: Rentang Kisah

Penulis: Gita Savitri Devi

Penerbit: Gagasmedia

Tahun terbit: 2017

Buku yang berjudul Rentang Kisah karya Gita Savitri ini bercerita tentang kisah sang penulis. Dalam buku ini diceritakan perjalanan hidup Gita. Tidak hanya itu, pengalaman berkuliah di Jerman juga menjadi bagian dari kisahnya. Penulis mengawali kisahnya dengan bercerita kehidupan masa kecilnya.

Masa kecil Gita Savitri dan berbagai fenomena kehidupan dengan banyak pelajaran berharga bagi Gita. Gita kecil bukanlah sosok yang senang dengan orang tua, terutama ibunya. Ia melihat ibunya sebagai sosok diktator dan menakutkan. Saat memasuki jenjang perkuliahan, Gita dibingungkan dengan pilihan berkuliah di ITB atau di Jerman. Melihat ayah dan ibunya yang dahulu juga tinggal di Jerman, kemudian Jerman menjadi pilihannya. Bagian selanjutnya menceritakan berbagai masalah yang menghampiri Gita, termasuk penguasaan bahasa Jerman. Kisahnya di Jerman terus berlanjut hingga tak terasa tujuh tahun berlalu. Banyak pengalaman serta pelajaran yang Gita dapatkan selama tujuh tahun di tanah rantau. Semua pengalaman itu tentunya mampu mengubah Gita menjadi pribadi yang matang dan lebih baik. Tidak seperti dulu.

Buku ini benar-benar ringan untuk dibaca. Cerita yang penulis sampaikan begitu saja mengalir dan sangat mudah dipahami. Tidak heran jika Rentang Kisah tahun ini sudah masuk cetakan keenam. Meskipun pada dasarnya ini adalah tentang kisah perjalanan hidup penulis, ada pesan dan nilai moral yang ingin disampaikan kepada pembaca. Setiap di sajikan permasalahan di awal bab, maka pembaca akan ditunjukkan bagaimana penulis merenungkan permasalahan itu, dan di bagian akhir selalu diberikan satu kesimpulan yang mencerahkan.

Contoh Teks Ulasan Film

Berikut contoh teks ulasan film yang dikutip dari Buku Bahasa Indonesia.


Judul: “Beth”

Bintang: Inne Febriyanti, El Manik, Lola Amaria, Reny Djajusman, Saut Sitompul

Sutradara: Aria Kusumadewa

Produser: Aria Kusumadewa, Nurul Ariin, Inne Febriyanti, dan Rio Kondo

Skenario: Nana J. Mulyana

Fotograi: Enggong Supardi

Produksi: PT Sinemata

Durasi: 85 menit

 “Adakah kata-kata sehat yang keluar dari mulut orang gila?” Ini pertanyaan sederhana. Namun, layaknya pertanyaan sederhana, yang ini pun membutuhkan jawaban yang rumit. Celakanya, jawaban dari pertanyaan inilah yang akan menentukan persepsi penonton terhadap Beth, film terbaru garapan sutradara muda Aria Kusumadewa.

Mereka yang memilih jawaban positif, dengan sendirinya akan mencerna Beth sebagai sebuah film alternatif yang kaya makna. Sebaliknya, bagi pemilih jawaban negatif, tak lagi perlu memaksakan diri untuk menikmatinya. Hal ini karena dari awal hingga akhir, Beth hanya mengambil satu setting: kehidupan di suatu rumah sakit jiwa.

Inti cerita film “Beth” berkisah cinta yang tragis antara Beth atau Elizabeth (Inne Febriyanti) dan Pesta (Bucek), sebagai dua anak manusia yang hidup dalam lingkungan sosial berbeda. Tak direstui oleh orang tua Beth yang jenderal. Kehidupan asmara Beth-Pesta pun berakhir mengenaskan. Pesta masuk penjara karena tertangkap ketika mengonsumsi narkoba. Beth jadi gila lantaran tak kuat menanggung deritanya. Lebih tragis lagi, keduanya dipertemukan kembali di Rumah Sakit Jiwa Manusia.

Akan tetapi, kisah cinta Beth-Pesta hanyalah bingkai semata. Inti film “Beth” yang sebenarnya tentang sejumlah karakter yang kemudian muncul dalam kehidupan para penghuni rumah sakit jiwa itu. Di sana ada penyair gila yang kerjanya hanya menulis dan membaca puisi. Ada politikus gila akibat obsesinya untuk menduduki kursi kepresidenan tak pernah tercapai.

Di rumah sakit tersebut ada juga seorang perawat yang terpaksa mengabdi karena ia tak diterima masyarakat lantaran pernah dirawat di rumah sakit jiwa itu. Ada pula pasien yang gila justru lantaran terobsesi jadi dokter jiwa. Tingkah para profesional gila yang dirangkai dalam akting yang kemudian melahirkan sejumlah pesan moral Aria.

Melalui tokoh Beth, Aria ingin menawarkan pandangan baru lewat suatu ‘kerajaan’ yang dibangunnya. Bukan di dunia waras tidak pula di dunia gila, tetapi di antara keduanya. “Melalui film ini saya hanya ingin mengungkap realitas dalam ekspresi yang jujur. Tak lebih dari itu,” kata Aria.

Menurutnya, seperti juga dunia waras, kehidupan di ‘dunia gila’ juga memiliki logika sendiri. Itu sebabnya ada orang gila yang ternyata berpikiran justru lebih logis ketimbang orang sehat. “Sebaliknya, banyak juga orang yang mengaku sehat, tetapi berperilaku tak lebih baik dari orang gila,” tambah Aria.

Bagaimana pun keadaannya, film “Beth” merupakan ungkapan semangat pemberontakan Aria pada sesuatu yang mapan. Dari sana Aria ingin memberi isyarat bahwa sudah waktunya kita mengkritisi idiom-idiom sesat yang kini terlanjur hidup dalam masyarakat kita. Jelasnya, memandang hidup secara lebih jujur adalah sebuah kebutuhan mendesak.

Tentang pesan moral ini, pengamat kesenian Afrizal Malna mengatakan, tak dapat tertangkap dengan jelas di film “Beth”. “Semua karakter dimainkan bagus dengan porsi yang sama sehingga tak terlihat adanya penonjolan karakter tertentu,” katanya.

Ia justru melihat “Beth” sebagai gambaran kian sempitnya ruang di masyarakat yang patut dijadikan tempat manusia untuk berkreasi satu-satunya ruang yang tersisa bagi Aria adalah rumah sakit jiwa. “Tapi, soal apakah ini pilihan yang paling tepat, tentu tetap perlu dipertanyakan,” katanya.  Meskipun demikian, semua itu bersifat multitafsir. Film “Beth” tampak istimewa karena pendekatan Aria yang unik dibanding sineas lainnya. Nurul Ariin melihat film karya Aria ini tak ubahnya suatu realitas yang didekati dengan cara yang berkebalikan dari pendekatan yang dilakukan Garin Nugroho dalam karya-karyanya. “Beda dengan karya-karya Garin yang menggambarkan realitas sosial yang selalu dari sisi kehidupan yang manis–manis, Aria lebih suka mendekatinya dari sisi-sisi yang lebih pahit,” kata Nurul. “Itu sebabnya semangat Aria ini perlu didukung penuh.” (Republika)

Leave a comment

Your email address will not be published.